Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2016

MEMAHAMI KEKUATAN UKHUWAH ISLAMIYAH

“dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kemu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu ( masa Jahiliyah ) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menyelamatkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS Ali Imron ; 103)
Kedudukan Ukhuwah dalam Islam
Ukhuwah islamiyah adalah nikmat Allah, anugerah suci, dan pancaran cahaya Rabbani yang Allah persembahkan untuk hamba-hambaNya yang ikhlas dan pilihan. Allah lah yang menciptakannya. Allah berfirman “... lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.....” (QS Ali Imron ; 103)
Ukhuwah adalah pemberian Allah, Ia berfirman “....Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka...”(QS Al Anfal ;63). Dengan memahami surah Ali Imron ayat 103 Allah mengatakan “... Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu ( masa Jahiliyah ) bermusuh-musuha, maka Allah mempersatukan hatimu.”
Selain nikmat dan pemberian, ukhuwah juga kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda “ Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya” (HR. Imam Muslim)
Ukhuwah juga membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi yang mampu menyatukan masyarakat manapun. Ia lebih kuat dari bangunan materi, yang suatu saat bisa saja hancur diterpa badai atau ditelan masa. Sedangkan bangunan ukhuwah islamiyah akan tetap kokoh, Rasulullah bersabda “ mukmin satu sama mukmin lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya” (HR. Imam Bukhori).
Ukhuwah tidak dapat dibeli dengan uang atau sekedar kata-kata. Tapi ia diperoleh dari penyatuan antara jiwa dan jiwa, ikatan hati dan hati. Dan ukhuwah merupakan karakteristik istimewa dari seorang mukmin yang shaleh. Rasulullah bersabda “ seorang mukmin itu hidup rukun. Tak ada kebaikan bagi yang tidak hidup rukun dan harmonis” .
Dan Ukhuwah Islamiyah  ini diikat oleh iman dan taqwa. Iman juga diikat dengan ukhuwah, Allah berfirman “ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersudara” (QS. Al Hujurat;6). Artinya mukmin itu pasti bersaudara dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan keimanan. Jika Allah melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah. Jika melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan bermusuhan. Allah berfirman “ Teman-teman akrab pada hari itu sebagaimana menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa”( QS. Al Zukhruf;67)
Keutamaan Ukhuwah Islamiyah
Dari ukhuwah islamiyah lahir banyak keutamaan, pahala, berpengaruh positif pada masyarakat dalam menyatukan hati, menyamakan kata, dan merapatkan barisan. Orang-orang yang terikat dengan ukhuwah islamiyah memiliki banyak keutamaan, diantaranya :
1.       Mereka merasakan manisnya iman, sedangkan selain mereka tidak merasakannya. Rasulullah bersabda “ Ada tuga golongan yang dapat merasakan manisnya iman, orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia dibenci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka” (HR Imam Bukhari)
2.       Mereka dibawah naungan cinta Allah, dilindungi Arasy Al Rahman. Rasulullah bersabda “ Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikatNya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya “ Mau kemana ?” orang tersebut menjawab “ Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya “Apakah kau ingin mendapat sesuatu keuntungan darinya ?” ia menjawab” Tidak, Aku mengunjungi hanya karena aku mencintainya karena Allah”, Malaikat pun berkata “ Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karenaNya” (HR. Imam Muslim)
3.       Mereka adalah ahli syurga di akhirat kelak. Rasulullah bersabda “ Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya hanya karena Allah, maka malaikat berseru ‘Berbahagialah kamu, bahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga” (HR. Imam Tirmidzi)
4.       Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan Allah. Rasul pernah ditanya tentang derajat paling tinggi, beliau bersabda “ ... Hendaklah mencintai dan membenci karena Allah....” Kemudia Rasul ditanya lagi, “ Selain itu apa wahai Rasulullah ?” Rasul menjawab “ Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri” (HR. Imam Al Mundziri)
5.       Diampunkan dosa. Rasulullah bersabda “Jika dua orang muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.” ( Hadist yang ditakhrij oleh Al Imam Al Iraqi, sanadnya Dha’if)
Syarat dan Hak Ukhuwah
Seorang muslim dalam ukhuwah islamiyah hendaknya mengetahui syarat dan hak ukhuwah islamiyah diantaranya :
1.       Hendaknya bersaudara untuk mencari keridhaan Allah, bukan kepentingan atau berbagai tujuan duniawi. Tujuannya ridho Allah mengokohkan internal umat islam, berdiri tegar dihadapan konspirasi pemikiran dan militer yang menghujam agama dan akidah umat. Rasulullah bersabda “ sesungguhnya amal itu tergantung niatny” (HR Imam Bukhari)
2.       Hendaknya saling tolong menolong dalam suka dan duka, senang atau tidak, mudah maupun susah. Rasulo bersabda “Muslim adalah saudara, ia tidak mendhaliminya dan tidak menganiaya..... dan tidak boleh seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, dimana yang satu berpaling dari yang lain, maka yang terbaik dari mereka adalah yang memulai mengucapkan salam” (HR. Imam Muslim )
3.       Memnuhi hak umum dalam ukhueah Islamiyah. Rasulullah bersabda “ hak muslim atas muslim lainnya ada enam yaitu jika berjumpa ia memberi salam, jika bersin ia mendoakannya, jika sakit ia menjenguknya, jika meninggal ia mengikuti jenazahnya, jika bersumpah ia melaksanakannya” (HR. Imam Muslim)

Sumber : Al qur'an dan Al Hadist

BERMUHASABAH KE JALAN YANG LURUS



Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jafan orang orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (QS. Al Fatikhah 6-7)
Kita selama ini memahami dua ayat terakhir hanya berisi permohonan agar diberi petunjuk oleh Allah ke jalan yang Lurus. Maksud jalan yang lurus adalah jalan mereka yang diberi nikmat oleh Allah. Bukan jalan mereka yang di murkai oleh Allah dan bukan pula jalan yang sesat. Padahal menurut para ulama dua ayat terakhir surat Al Fatihah ini tidak hanya didesain Allah untuk sekedar fungsi sebagai permohonan atau doa namun juga sebagi muhasabah , alat evaluasi diri. Dua ayat ini minimal dibaca tujuh belas kali dalam sehari semalam, sejumlah rakaan wajib. Namun jikalau melaksanakan sholat sunnah, maka akan lebih dari tujuh belas kali bacaan surat ini di baca karena setiap rakaan sholat sunnah pun tetap wajib membaca surat Al Fathihah.
Kenapa Harus Muhasabah
Muhasabah merupakan evaluasi diri, instropeksi diri, menghisab diri, dan menghitung-hitung diri. Ini dilakukan untuk mengukur kualitas keimanan, keislaman dan akhlah individu. Muhasabah itu juga dilakukan untuk memastikan bahwa diri telah berada di jalur yang benar, sudah ‘on the track’. Muhasabah juga usaha untuk menghidupkan kesadaran akan adanya hari perhitungan yang disebut dengan Yaumul Hisab. Muhasabah penting untuk menumbuhkan kesadaran akan kelemahan diri bahwa tidak ada yang sempurna dan perlu mempelajari keleman diri untuk diperbaiki.
Muhasabah juga untuk menumbuhkan suasana selalu ingat kepa Allah SWT karena insan diperintahkan untuk selalu mengingat Allah dimana saja berada. Disamping itumuhasabah juga momentum untuk segera bertaubat selagi masih melakukan dosa karena sadar diri bahwa setiap insan memiliki dosa dengan setidaknya melakukan muhasabah dengan cara istighfar mohon ampunan kepada Allah.
Muhasabah itu dapat membuat lebih baik daripada sebelumnya, karena kita punya kesempatan mengkaji kekurangan kekurang yang ada pada diri, lalu ke depan untuk disempurnakan. Apalagi nabi Muhammad Saw bersabda “ Orang yang hari ininya lebih baik dari hari kemarin adalah kelompok yang beruntung. Tapi yang hari ininya sama dengan hari kemarin, mereka kelompok yang merugi. Dan mereka yang hari ininya lebih buruk dari hari kemarin masuklah mereka kelompok yang celaka”.
Ihdinash Shirotol Mustaqiim
Puncak dari muhasabah adalah sewaktu diri setiap hari mampu mengecek apakah telah berada di shirotol mustaqiim atau berada di jalan yang lurus, atau malah sudah melenceng dari jalan lurus atau melenceng dari jalan yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Melenceng dari jalur yang ditetapkan oleh Allah.
Muhasabah seharusnya dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan seorang muslim setiap hari setiap waktu. Muhasabah ini semakin banyak dilakukan semakin baik, sebagaimana berdzikir yang banyak merupakan perintah Allah, karena itulah mengapa Allah memerintahkan selalu membaca kalimah ihdinash shirotol mustaqiim setiap hari. Bahkan minimal tujuh belas kali setiap hari atau bisa saja lebih banyak lagi.
Bacaan dua ayt terakhir al Fathihah ini sebetulnya tidak hanya sekedar memohon untuk ditunjuki Allah jalan yang lurus, tetapi sekaligus perintah untuk muhasabah. Mengecek apakah sudah selalu berada di jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau ridhai dan beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.
Rasulullah saw sendiri dalam hadist dari Syadad bin Aus telah bersabda “ Orang-orang yang pandai (sukses) adalah yang menghisab dirinya sendiri srta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Swt” (HR. Tirmidzi). Bahkan dalam al quran juga telah dijelaskan dalam firman Allah “ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap dirinya memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari ( akhirat ) dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS. Al Hasyr ; 18)
Firman Allah ini juga secara tidak langsung menyuruh manusia untuk melakukan muhasabah terhadap dirinya, dengan memperhatikan apa yang sudah dilakukan untuk dipersiapkan di hari akhir nanti. Apakah sudah jadi hamba Allah yang bertaqwa atau belum, sampai kalimat bertaqwa diulang dua kali yang berarti ini petunjuk agar selalu mengecek keimanan dan keislaman manusia.
Muhasabah dalam hal apa saja
Secara garis besarnya, muhasabah harus dilakukan meliputi hubungan dengan Allah dan dalam hubungan dengan manusia. Allah berfirman “ Mereka meliputi kehinaan di mana saja mereka, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia (QS. Ali Imron 12).
Kalau diperinci agak detail, berikut beberapa yang harus di muhasabah :
1.       Periksalah hubungan dengan Allah, apakah sudah mencintai Allah, karena Allah berfirman “ Adapun orang-orang yang beriman itu sangat mencintai kepada Allah... (QS. Al Baqarah 165). Bgaimana cara mencintai Allah, apakah sudah melakukan semua perintahNya dan juga meninggalkan semua laranganNya. Muhasabahlah,... Evaluasilah.
2.       Evalusi apakah juga telah mencintai dan meneladani Rasulullah saw. Kalau meneladani dan mengikuti Rasulullah maka akan medapat cinta dan ampunan Allah dalam firmanNya “ Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imrom ; 31). Bagaimana cara mencintau Rasulullah? Tentu saja dengan mengikuti sunah-sunah beliau, teladani akhlak beliau. Contoh dan tiru ibadah beliau. Evaluasi apakah sudah meneladani beliau.
3.       Evaluasi juga bagaimana hubungan antar sesama. Apakah sudah berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain, karena nabi bersabda “ Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”, bahkan muhasabahlah apakah sudah mencintai orang lain sebagaimana telah mencintai diri sendiri, karena ini merupakan ukuran iman seseorang, bahkan bida mendapat pertolongan Allah dengan memberi pertolongan kepada orang lain, menurut Nabi. Cek sumua Ituuu
4.       Muhasabah juga dalam hubungan keluarga, apakah sudah seperti yang diperintahkan Allah  dan disuruh Rasulullah. Hubungan dengan orang tua, evaluasilah apakah sudah “birrul walidain” seperti apay yang diperintahkan Allah. Sudah membuat bahagia atau malah mengecewakannya dan seterusnya. Begitupula hubungan suami dan istri apakah si istri sudah patuh pada suami dan begitupula sebaliknya apakah suami telah memenuhi kewajiannya, sudah menyayangi istri. Begitu juga dengan anak-anak apakah orang tua sudah mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Apa sudah menjaga mereka dari api neraka dans eterusnya.
5.       Jangan lupa mengevaluasi diri apakah sudah memusuhi syetan, bukan membahagiakannya karena sewaktu senang, sombong, ghibah, riya, bohong, iri, dengki, hasad, namimah dan syirik, maka sebetulnya kita sedang membahagiakannya.
Kesim[ulannya, mari bermuhasabah setiap sehari mengucapkan ihdinash shirothol mustaqim agar terjaga selalu berada di jalan yang lurus, jalan yang diridhoi Allah. Dan tidak terperosok ke jalan yang dimurkai Allah dan jalan yang sesat yaitu jalannya syetan. Sudah terlalu lama tanpa sadar membahagiakan syetan dan menyakiti Allah. Dengan selalu mau mendengarkan bisikan syetan dan malah melakukan ajarannya dan saatnya diberhentikan oleh niat diri bermuhasabah agar dengan sadar apa yang kita lakukan selalu di jalan Allah.

DAFTAR REFERENSI
Al Qur'anul Karim
Al Hadist 

Rabu, 19 Oktober 2016

SEMBAHLAH ALLAH, JAUHI KESYIRIKAN



Allah menciptakan manusia untuk beribdah kepada-Nya dan melarang mereka dari menyekutukan-Nya. Kemudia Dia sampaikan perintah tauhid kepada segenap mannusia dengan mengutus rasul-rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya, yang menjelaskan kepada mereka seperti apa ibadah yang Allah perintahkan dan apa kesyirikan yang Allah larang. Sehingga tidak ada seorang nabipun yang diutus melainkan mengajak umatnya kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan.
Allah ta’ala berfirman yang artinya “(mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan supaya tidak ada alasanbagi manusia (untuk ) membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” ( QS. An Nisaa:165)ath Thabari menerangkan dalam tafsirnya, “(firman Allah)((“agar supaya tidak ada alasan bagi manusia (untuk ) membantah Allah sesduah diutusnya rasul-rasul itu” Allah menjelaskan “ Aku mengutus rasul-rasulku dengan membawa berita gembira dan peringatan agar orang-orang yang mengingkari Ku dan beribadah kepada sesembahan-sesembahan selain Aku, atau tersesat dari jalan Ku, tidak beralasan saat Aku akan menghukumnya (dengan mengatakan): “ Wahai Rabb kami, mengapap tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dina dan rendah ?”( QS At Thaha : 134). Maka Allah memutus alibi setiap orang yang kufur, tidak mau mentauhidkan Nya dan menyelisihi perintahNya...,”
Maka tidak ada seorang nabipun kecuali mengajak umatnya kepada perkara ini dan menjelaskan kepada mereka secara gamblang dan secara terang. Allah telah berfirman “ Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada dzat yang berhak di ibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada Ku (QS. Al Anbiya : 25).
Dalam ayat lain Allah berfirman “ Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, Adakah Kami menentukan sesembahan-sesembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”(QS. Az Zukhruf:45)
Bahkan pada sebuah ayang yang agung Allah Ta’ala menceritakan dialog antara Dia dengan Isa ‘alaihisalam berkenaan dengan perbuatan orang-orang yang mengaku mengikutinya yang artinya “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman Hai Isa puteri Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia “ Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan lain selain Allah”. Isa menjawab “ Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hak ku(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengatahui. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku namu aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri MU. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang Ghaib” ( QS. Al Maidah:116)
Sehingga jadilah perkara ini dalam syariat kita perkara yang paling muhkam ( terang ) dan jelas.
Perintah Allah untuk beribadah kepadaNya saja dan larangan dari beribadah selain kepadaNYa
Pokok ajaran islam dan kaidah dakwah para rasul berporos pada perkara ini, yaitu perintah untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.
Ayat dan hadist yang menerangkan hal ini ada banyak sekali, bahkan keseluruhan ayat al qur an menjelaskan perkara ini sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnul Qoyyim Rahimahullah. Beliau berkata “ semua ayat di dalam Al Quran mengandung tauhid, sebagai bukti baginya, dan mengajak kepadanya”(Madaarij As Saalikin, 3/450)
Diantara ayat yang paling jelas menerangkan hal ini adalah firman Allah yang artinya Dan beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukanNya dengan suatu apapun (QS. An Nisaa:36). Dan juga dalam firmanNya yang artinya Dan Rabb mu memerintahkan jangan kalian beribadah kecuali kepadaNya dan berbaktilah kepada kedua orang tua (QS. Al Israa :23).
Siapa saja yang membaca ayat diatas bisa memahami Allah melarang dari beribadah kepada SelainNya, meminta kepada selain Dia, bergantung kepada selain Dia, dan berbagai macam beribadah selain Dia yang hanya boleh diberikan untuk Allah Ta’ala semata.
Bahkan hampir semua muslim membaca dalam shalatnya pada doa iftitah, firman Allah yang artinya Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah hanya untuk Allah semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku termasuk yang pertama berserah diri ( Qs. Al An’am : 162-163)
Imam Muhammad At Tamimi Rahimahumullah menerangkan akan gamblangnya penjelasan Allah akan perkara ini, “.... Allah jelaskan dengan sangat gamblang untuk orang awam, (kejelasannya) melebihi sangkaan semua orang “ ( Al Ushul Al Sittah)
Dengan kata laintidak perlu sekolah tinggi-tinggi atau menamatkan kuliahnya untuk memahami perkara agung ini, karena kalaui tidak begitu berarti Al Quran bukan hidayah bagi semua orang, tapi cukup dalam hal ini seseorang membuka Al Quran dan memahami artinya
Hakikat Kesyirikan
Sebagaimana perintah Allah untuk beribadah kepada Allah, Al Quran juga menerangkan kesyirikan yang Allah peringatkan manusia dariNya dan Allah utus NabiNya Shallallhualaihissalam untuk memberantasnya.
Dan dengan mengetahui perkara ini, yaitu apa batasan teringan suatu perbuatan dianggap sebagi kesyirikan, sangat berguna bagi seorang muslim untuk selamat darinya dan dari kesyirikan lainnya yang lebih besar darinya. Ayat pertama yang menerangkan hal ini adalah firman Allah yang artinya Dan mereka berinadah kepada selain Allah dari apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah ( QS. Yunus: 18)
Ayat kedua yang menerangkan semakin jelasnya hal ini seperti yang difirmankan Allah yang artinya Dan orang-orang yang mengambil wali (pelindung) selain Allah berkata” Kami tidaklah menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkankami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya (QS. Az Zumar:3), maka mencari syafaat ? perantara / wasilah merupakan alasan yang sudah ada pada musyrikin terdahulu. Bahkan mereka tidak menyebutkan Allah melainkan karena alasan ini, kendati demikian, alasan ini tidak menggeser status mereka sebagai orang yang menyekutukan Allah..
Wallahu A’lam Bishowab

Sumber : Al quran dan al Hadist

ANAK ADALAH AMANAH JADI BERHATI HATILAH SAAT MENDIDIKNYA



Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar (Q.S al Anfal : 28)

Anak adalah amanah Allah untuk para orang tua. Ia adalah tabungan amal untuk hari depan di akhirat, meskiun demikian ia bukan milik orang tua sepenuhnya karena ia milik zamannya dan yang utama milik Allah. Terkadang anak tersebut dalam perjlanan , tidak lurus atau bahkan terpuruk dan hatinya yang buta membutuhkan doa ibunya sebagai obat, bukan sumpah serapah dan caci maki apalagi sebuah kutukan. Ibu maafkanlah anak anakmu walaupun perih dan pedihnya hatimu karena mereka tetapi jangan sampai kutukan pun terucap dari mulutmu, ingatlah bahwa merak adalah buah hatimu yang terlahir dari rahimmu dan ingatlah setiap perkataanmu ( ibu ) adalah doa jadi bimbinglah mereka dengan tulus.
A.      Jagalah Lisanmu
Pada jaman orang tua dahulu, anak-anak sangat takut pada orang tuanya oleh karenanya mereka berusaha bersikap baik dan menurut pada orang tua. Dalam pemahaman yang mereka dapat dari surau-surau tempat mereka mengaji yaitu kemarahan orang tua adalah kemarahan Allah dan Rasulullah SAW bersabda “Ridha Allah tergantung ridha orangtua dan murka Allah juga tergantung pada orang tua”. Oleh karena itu seorang ibu haruslah menjaga lisan karena jika anak keturunan dimurkai Allah maka tutuplah pintu syurga bagi mereka.
Mungkin ketika anak-anak masih kecil, begitu banyak ulah anak yang membuat kepala ibu pusing mulai dari memecahkan piring hingga bertengkar dengan kakak atau adiknya. Mungkin dada penuh dengan amarah yang siap berhambur keluar, kalau bisa menasihati bukan dengan amarah atau memarahi hingga puas dan jika ibu marah dengan membabi buta mugkin tidak lagi memperhatikan anak dan tidak menghargai keingianan anak, anak semakin dan merasa disudutkan dan ibunya merasa tidak memahami anak.
Jadi marilah berlajar dari ibu ibu terdahulu, mereka sangat menjaga lisannya agar tidak mengucapkan hal-hal buruk pada anaknya, bagi mereka lebih baik menahan amarah hingga mereka menangis dari pada menumpahkan amarah yang berujung pada sumpah serapah dan mengucapkan kalimat yang buruk apada anaknya.  Mereka menganalisanya karena takut pada Allah  dan mereka takut ucapannya  sekarang berubah menjadi makian yang membuat buruk masa depan anak dan jika sekali saja ibu mengucapkan perkataan buruk pada anaknya maka ia menangis meminta ampunan Allah dan meminta maaf pada anaknya. Meminta maaf pada anak bukanlah hal yang membuat martabat ibu menjadi jatuh, hal itu malah membuat anak semakin lembut hingga mau mengubah perilakunya yang buruk dan kasar menjadi sebaliknya agar menjadi anak idaman semua orang tua.
Ibu berhati hatilah dengan lisan kalian karena lisan seorang ibu adalah doa untuk anak anaknya, dan doa ibu itu tidak tertabirkan dari pengabulan Allah SWT. Ibu jagalah lisan kalian, belajarlah dari Nabi Musa dalam menghadapi Fir aun yang kasar dan dzalim. Allah SWT memerintahkan kepada nabi Musa untuk bersikap lemah lembut dalam menghadapi kejahatan fir’aun. Allah berfirman”Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu dan janganlah kalian lalai dalam mengingatKu. Pergilah kalian berdua kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaahaa : 42-44)

B.       Berlakulah jujur
Abu Dawud dan Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Amin: pada suatu hari ibu memanggilku sedangkan rasulullah SAW duduk disamping rumah kami. Ibuku berkata “kemarilah aku akan memberimmu”, kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya “Apa yang akan kau berikan kepadanya?” ibuku berkata “aku akan memberikan sebuah kurma”, Rasulullah SAW berkata “kalau kau tidak memberikan sesuatu padanya, maka engkau dicatat sebagai seorang pendusta”
Mungkin kita sudah mengetahui cerita malin kundang, sesungguhnya Mande Rubayah (ibu Malin Kundang) melakukan sesuatu kesalahan yaitu tidak memberikan cukup kejujuran pada Malin Kundang sebelum ia pergi. Hal ini berbeda yang dialami oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani. Dalam kisahnya ia berkata : “semenjak dibesarkan aku telah melaksanakan urusan diatas kejujuran. Demikian pula ketika aku keluar dari Mekkah menuju bagdad untuk mencari ilmu, ibuku memberi bekal sebanyak 40Dinar untuk mencukupi nafkahku, ia telah memperingatkan kepadaku untuk berlaku jujur. Ketika tiba di hamdah, keluarlah sekelompok perampok menghadang kami, mereka merampas dari kafilah. Salah seorang diantara mereka berlalu dihadapanku dan bertanya “apa yang kau bawa?” aku menjawab “40 dinar”, orang itu mengira aku membohonginya lalu ia membiarkanku, kemudian salah seorang laki-laki lainya melihatku dan bertanya “Apa yang kau bawa?” lalu aku memberitahu apa yang aku bawa, kemudian orang itu membawa kepada pimpinannya lalu ia bertanya pada ku dan aku memberitahu apa adanya. Pimpinan perampok itu bertanya “apa yang mendorongmu untuk berlaku jujur?” aku menjawab “Ibuku telah mengingatkanku untuk berlaku jujur maka aku takut untuk mengkhianati janji itu” kemudian pimpinan perampok itu ketakutan, lalu berteriak dan merobek bajunya kemudian berkata “Kau takut mengkhianati ibumu sedangkan aku tidak takut mengkhianati Allah” kemudian pimpinan perampok itu memerintahkan untuk mengembalikan apa yang mereka ambil dari kafilah. Ia lalu berkata “Aku bertaubat kepada Allah diatas Tanganmu”, Dan seorang anak buahnya berkata “Engkau memimpin kami dalam merampok dan kini engkaub memimpin kami dalam bertaubat” maka bertaubatlah mereka seluruhnya berkat kejujuran.

C.      Jagalah pergaulan mereka
Dalam kisah malin kundang, jelas tidak terjaganya pergaulan si Malin Kundang. Malin Kundang tidak dapat memilih istri yang baik, yang ia pilih adalah wanita kaya raya tetapi akhlaqnya tidak terpuji. Perempuan mulia mana yang mampu mencaci wanit tua yang ternyata adalah mertuanya sendiri.
Apabila anak dibiarkan bermain dijalanan dan ebrgaul dengan anak-anak yang nakal dan rusak maka sangatlah mungkin anak akan mempelajari bahasa cacian, celaan dan penghinaan serta tumbuh dewasa berdasarkan pendidikan dan moralitas yang buruk. Untuk menghalau pengaruh lingkungan, cegahlah anak terlalu banyak bermain diluar atau dengan menyeleksi teman bermain anak-anak, bukan berarti pilih-pilih tetapi menjaga anak agar anak tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Ibu dapat memberikan teladan berupa keindahan dalam berbahasa maupun melembutkan lisan ketika berbicara dengan mereka, kita juga dapat membangun immunitas dalam diri anak terhadap pergaulan yang uruk dengan memperkuat pendidikan agama dan akhlaq Islam

D.      Mengapa anak durhaka kepada orang tua
Ummu Al Fadl bercerita : suatu ketika aku menimang seorang bayi. Rasulullah SAW mengambil bayi itu lalu menggendongnya, tiba tiba sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasulullah SAW, langsung saja ku renggut bayi itu dari gendongan Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW menegurku “Pakaian yang bersih dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar itu?”
Ketika anak di cap durhaka oleh masayarakat, pernahkah kita berfikir sebab apa yang membuat dia bersikap durhaka kepada orang tuanya. Pernahkah kita berfikir jika apa yang dilakukan anak adalah buah dari diidkan orang tuanya. Tanpa sadar kita sering kali bersikap tidak adil terhada anak. Mungkin ini terjadi karena tidak tahu/mengereti proses perkembangan anak. Ketika anak berbuat salah dengan tergesa-gesa kita mengecap anak itu nakal, padahal bisa jadi itulah yang mesti dialami oleh seorang anak sesuai dengan usianya, dan kita tergesa gesa ingin membernarkan anak itu.
Ketika anak berbuat salah dengan cepat sekali kuta bereaksi, mengomel sepanjang hari ketika si anak merusak tas kesayangan bahkan mencubit atau memukulnya kala mereka susah disuruh mandi, padahal waktu menjelang maghrib. Anak-anak tidak hanya mengalami kekerasan diluar rumah oleh teman-teman sekolah/sepermaianan/guru sekola. Kerana mereka juga mengalami kekerasan didalam rumah lalu harus kemana mereka mencari perlindungan ketika orang yang paling dekat dengan mereka berbuat kasar terhadapnya. Bisa jadi orang tua menganggap anak semakin nakal karena semakin tidak sabar mendidik mereka atau tidak memberikan hak hak anak dengan semestinya. Cara mengingatkan anak yang melakukan kesalahan adalah dengan meniru cara Rasulullah SAW yaitu dengan cara halus dan lemah lembut.
Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya Allah itu maha lembut serta menyukai kelembutan disegenap permasalahan” dan sesungguhnya orang tua mendidik anak menjadi manusia yang berakhlaq islami tidaklah mudah tetapi janganlah kalian risau!,. bersabar dan mengikhlaskan dalam semua usaha membesarkan dan mendidik anak karena Allah pasti membimbing kalian. Rasulullah SAW bersabda “ Bertaqwalah kepada Allah SWT dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu” ( HR Bukhari dan Muslim )
Pustaka
Al Qur’anul Karim
Al hadist

Aka_Eka